Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2022

Unscrupulous Law

Gambar
  Ilustrasi Hukum, yang Dipandang Sebelah Mata/(Foto: Istimewa) Oleh, Imanuel Nawipa Hukum itu lurus,  ketika tunai berbicara, Seakan-akan sokongan menjadi telangkai eksistensi hukum, Di jagat ini, etiket diciptakan tuk menyokong kepalsuan atas ketidaklaziman itu, Namun, kehakikiannya tak demikian, Hukum di pertiwi ini sudah mangkat, Tak ada lagi pengukuh hukum, yang arif akan langgam itu, Eksistensi hukum yang sebenarnya, t'lah mengerawang diterka oleh pemangku duniawai, Dan, hukum t'lah diterkelopaki, Hukum juga, t'lah dinodai, Sungguh kejamnya sultan, sesepuh  yang bertopeng itu, Hulu hukum sudah tak lancip lagi, Masa kini hukum sedang tergelimpang lelap, Tak membesuk yang berpaut, Yang salah tetaplah tertawa berbahak-bahak Bahkan berfoyah, foyah, Sedangkan, yang tak salah malah disalahkan Itulah mata hukum di negri, tumpul keatas tajam kebawah, Aneh bukan?! Katanya, di mata rakyat, selalu menilik Namun; " tak berkaca " Siapakah sebenarnya hukum itu? Bertanya, ...

AMOR'KU DIPERANGAI LAUTAN BEBAS

Gambar
Ilustrasi seorang pemuda, melepaskan ragatnya (Foto: Istimewa/urbanjabar.com)   Oleh, Imanuel Nawipa Seperti laut bebas, yang tenang namun mampu mengubah sanubari'ku, Dikala itu seperti lumpuh, semata-mata bisa berjalan, Sarasa dalam alam yang bebas, membuat daku cawis dalam swasembada, Dan, amor'ku diam dalam kebah lautan yang penuh dilema, Darat dan laut t'lah menjadi satu dalam payung asmara, Separuh jiwa-ku menenung menunggu-mu dibibir pantai, Dipatik, jatuh, bangun bukan menjadi rambu-rambu, menjelma s'bagai kewajiban-ku tuk,  mengejar rasa gulana-mu, Seakan-akan, seolah-olah aku merasa kontemplasi-mu berada digisik pundak-ku, Di bibir pantai laut ini, aku terus menanti seraya bersama resistansi-ku, Senandung ombak mulai perlahan-lahan menghambar, senja pun ikut merebah, Dan.....tapi, asmara dan nafsu amor'ku tak membuyar, Sepantun itulah definisi amor'ku diperangai lautan bebas,

Short story dibalik Ten Beach Cafe

Gambar
Oleh, Imanuel Nawipa Ten Beach Cafe, malam itu kami bercengkerama soal refleksi dalam pengembaraan, Pelancongan yang semenjana dalam beragam, Mengayun dari sudut negeri dengan pola bersirkulasi, berfatwa , yang berbeda-beda pula, Dua jam lebih, kami bercerita panjang lebar Puncangan menghantui sanda dalam ekspresi wajah yang beratipikal,  Dalam suasana itu, sembari menikmati kopi, hari hujan, hujan semakin lejang yang tak ada hentinya, Menghendapnya dingin lantaran menghampiri, menusuk tulang,  Titiang berkemas-kemas tuk bersipu Singkat tambo, Seraya kisah perjalanan  itu, suatu saat akan dirawikan kepada yang menokokkan ceritanya itu, Padang, 25 Oktober 2022 PenaManu🌹

Blind Love

Gambar
Oleh, Imanuel Nawipa Di tengah selarung ini sepertinya, aku tak mampu berlayar sebatang-tubuh. Ntah, apakah banyak bahara? Syahdu, penat yang mencekam dalam kelat . Aku seperti tuli namun bisa bermangap Aku seperti buta namun bisa memalarkan Setakat, aku masih berkolang-kaling dalam swasembada Keberahian akan amor'ku semakin menyurut Hari-hari'ku suram, menyepih dalam kehampaan 2015 lalu, banyak bayangan yang penuh dalam goresan sanubari Sepertinya, sejak itu ada terai yang tersematkan namun tersemerawang bagai bunga putri malu, yang diterka lalu terkatup begitu saja Gerangan, pelancongan memori yang menjadi misteri, perihal kala itu.  Hanya saja jarak dan waktu yang menjadi dalih Padang, 3 November 2022 ~PenaManu~🌹