Postingan

Catatan Singkat Gregor Johann Mendel

Gambar
                                                Ilustrasi Gregor Mendel, (foto: Istimewa) Gregor Johann Mendel, O.S.A, biasanya disapa Gregor Mendel, lahir pada 20 Juli 1822 – 6 Januari 1884) beliau adalah ahli biologi bidang sub-ilmu botani dan sekaligus seorang biarawan Katolik berkebangsaan Austria yang menyusun konsep-konsep dasar genetika. Penyelidikan sifat pewarisan dalam genetika dilakukan oleh Mendel dengan memanfaatkan kacang ercis.  Mendel menunjukkan juga bahwa warisan biologis gen tertentu dari sifat dalam tanaman kacang ercis mengikuti pola-pola tertentu, sekarang disebut sebagai Hukum Mendel.  Makna mendalam dari karya Mendel tidak diakui sampai pergantian abad ke-20, ketika ditemukan kembali hukum-hukum Mendel memprakarsai ilmu genetika modern. Karya Mendel ditolak pada awalnya, dan tidak diterima secara luas sampai setelah dia men...

MENGENAL BAHASA

Gambar
Ilustrasi seseorang berbicara. (Manokwari, 19/02/24).( Foto. Dok : SumutPos.com) Oleh, Imanuel Nawipa Bahasa itu unik ketika diolah dengan imajinasi, Bahasa itu estetik ketika dibeberkan oleh seorang puitis, Bahasa itu bermakna ketika ditafsirkan oleh penyair, Bahasa itu seperti alunan musik, yang dinyanyikan secara menghayati, Bila gagasan itu tercipta dari pikiran, maka itulah bahasa, Bila seseorang berfikir tentang gagasan, ia berucap tuk menghasilkan makna, Bila seseorang berucap bahasa tanpa memikirkan ide maka bahasa itu tak bermakna, Bilamana bahasa itu dituturkan tanpa diyakini, maka sia-sialah bahasanya, Bahasa disebut bahasa jika seseorang berbahasa, Bahasa itu esensialistik yang mencanangkan nilai-nilai kebudayaan, Bahasa itu nyawa ilmu pengetahuan, Bagaimana orang mau berpengetahuan tanpa berbahasa, mustahil kan?!

Eksistensialisme Pena dan Secarik Kertas

Gambar
Ilustrasi Seuntai Pena dan Secarik Kertas. Manokwari, 19 Februari 2024. (Foto.  Dok Pngtree.com) Oleh, Imanuel Nawipa Setangkai pena, ku tulis tuk membuka jalan keabsahan, Selembar kertas ku-hargai, " karena " tidak pernah menolak seribu kata,  Dan, tidak menolak isi tilikan, Tidak menolak isi hati, Pena dan kertas,  Tidak mengagak seorang penulis, penyair dan sebagainya, Yang s'lalu merangkai suara kaum bawah,  Yang s'lalu merangkai suara kaum atas, Namun, sebuah pikiran harus menakzimkan secuil tinta dan kesucian kertas, Agar tak mengkhianati keduanya, Agar tak menyesatkan pikiran antar pikiran, Itulah dua alat, yang s'lalu mengilhami semu, dan nurani penulis.

Berkaca dalam Sukma Ilmu MEREKA

Gambar
Tampak anak-anak sedang melatih keterampilan menulis. (Nduga, 02/08/19.(Foto.Dok:                            Wartawan BBC News Indonesia di Wamena, Papua) Terlihat bocah-bocah yang berantusias dalam mengaduh sukma ilmu  Ekspresi dalam esensi mereka seperti api  Api yang menyuar seluruh jiwa raga mereka Nampak dengan kesahajaan mereka,  Mereka dengan menghela busana berwarna warni, t'lah melukiskan bahwa itu adalah kebijaksanaan Meja yang panjang telah merampai persaudaraan mereka dalam menempuh tendensinya  Jujur ambo sedih saat menilik klise diatas,  Rasanya seolah-olah " ko masak sayur namun tidak ada garam dan mecin, yang sebagai pelengkap rasa "  Namun ya...dengan kesederhanaan mereka, mereka mengiktikadkan kepada jagat bahwa keistimewaan mereka yang sebenarnya Mereka dilahirkan di alam yang kaya akan susu madu, namun konteks " alam kaya akan susu madu" hanya tinggal sebatas frasa y...

Noken dibalik Cermin Sukma

Gambar
Ilustrasi Noken, yang dipakai oleh Kedua Putri Cendrawasih.(Foto: Istimewa Oleh, Imanuel Nawipa Noken, Oleh karena kehakikian leluhur Oleh karena rintisan leluhur Oleh karena etikat leluhur Eksistensi-mu tetap dicelik Hanya saja sekelompok kaum yang mengajuk-mu Engkau mengakuri falsafah seni-mu kepada banyak orang Namun, Makin hari, minggu, tahun, presensi dan nilai seni-mu semakin menipis Andaikata engkau adalah esensi yang hidup (manusia), engkau bisa menginsafkan manusia-manusia yang tidak manusiawi Anasir yang hilang akan keberadaannya tentang-mu Jangan sampai, kehadiran dan nilai seni-mu dihasut oleh manusia abad masa kini Selamat hari noken. Hari-hari-mu hendak selalu hidup tatkala bagi manusia yang berintelektual

Money is King Above the Law

Gambar
Hukum itu lurus, ketika tunai berbicara, Seakan-akan sokongan menjadi telangkai eksistensi hukum, Di jagat ini, etiket diciptakan tuk menyokong kepalsuan atas ketidaklaziman itu, Namun, kehakikiannya tak demikian, Hukum di pertiwi ini sudah mangkat, Tak ada lagi pengukuh hukum, yang arif akan langgam itu, Eksistensi hukum yang sebenarnya, t'lah mengerawang diterka oleh pemangku duniawai, Dan, hukum t'lah diterkelopaki, Hukum juga, t'lah dinodai, Sungguh kejamnya sultan, sesepuh yang bertopeng itu, Hulu hukum sudah tak lancip lagi, Masa kini hukum sedang tergelimpang lelap, Tak membesuk yang berpaut, Yang salah tetaplah tertawa berbahak-bahak Bahkan berfoyah, foyah, Sedangkan, yang tak salah malah disalahkan Itulah mata hukum di negri, tumpul keatas tajam kebawah, Aneh bukan?! Katanya, di mata rakyat, selalu menilik Namun; " tak berkaca " Siapakah sebenarnya hukum itu? Bertanya, rakyat jelata....,, #Penamanu #UnscrupulousLaw🌹 Sumber Photo: Okezone.news ...

Unscrupulous Law

Gambar
  Ilustrasi Hukum, yang Dipandang Sebelah Mata/(Foto: Istimewa) Oleh, Imanuel Nawipa Hukum itu lurus,  ketika tunai berbicara, Seakan-akan sokongan menjadi telangkai eksistensi hukum, Di jagat ini, etiket diciptakan tuk menyokong kepalsuan atas ketidaklaziman itu, Namun, kehakikiannya tak demikian, Hukum di pertiwi ini sudah mangkat, Tak ada lagi pengukuh hukum, yang arif akan langgam itu, Eksistensi hukum yang sebenarnya, t'lah mengerawang diterka oleh pemangku duniawai, Dan, hukum t'lah diterkelopaki, Hukum juga, t'lah dinodai, Sungguh kejamnya sultan, sesepuh  yang bertopeng itu, Hulu hukum sudah tak lancip lagi, Masa kini hukum sedang tergelimpang lelap, Tak membesuk yang berpaut, Yang salah tetaplah tertawa berbahak-bahak Bahkan berfoyah, foyah, Sedangkan, yang tak salah malah disalahkan Itulah mata hukum di negri, tumpul keatas tajam kebawah, Aneh bukan?! Katanya, di mata rakyat, selalu menilik Namun; " tak berkaca " Siapakah sebenarnya hukum itu? Bertanya, ...