Kuat Berkebun
![]() |
| Potret lima orang Papua yang sedang berkebun (Foto: Istimewa) |
Kuat berkebun! Kuat artinya tidak mudah lelah dari suatu pekerjaan. Ya ada kalanya setiap manusia pasti merasakan lelah. Sedangkan berkebun merupakan suatu proses aktivitas yang sedang berlangsung. Lelah dan berkebun dua istilah yang sangat dibutuhkan oleh manusia secara rohani dan jasmani.
Dengan begitu, mereka selalu aman dan sejahtera, rakyatnya hidup dengan tali persaudaraan yang baik dengan alam sekitarnya maupun sesama. Mereka tak lekas capek dari tempatnya itu, mereka sudah terbiasa berjalan di bukit-bukit dan lereng-lereng, bahkan gunung-gunung. Itulah kehebatan alami yang menjadi tradisi dalam aktivitasnya.
Hiruk angin yang dasyat terus bereaksi di hamparan lembah, burung-burung ikut serta mengeluarkan suaranya yang merdu. Matahari selalu terbit dari timur memancarkan cahayanya.
Di sinar yang cerah itulah mereka berbondong-bondong ke ladang dengan tujuan untuk menemukan titik terang, sebagai tolak ukur hidup mereka. Saling menghiasi, susanana dengan penuh senyuman yang mendalam, dibalik senyum itu ada seribu harapan yang besar. Kerja sama dan sama kerja dalam menempuh satu tujuan, untuk mencapai hasil yang baik. Berkebun merupakan suatu aktivitas yang sudah menjadi hal biasa, yang selalu menjadi roda hidup serta kebutuhan dalam kehidupan. Rakyat jelata yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, justru kaya akan kreatif dalam menghasilkan benih yang baik, dalam suatu perkerjaan, terutama hasil dari kebunnya itu. Ya..memang itu drama kehidupan yang real. Tak ada waktu yang tersisah, pekerjaan mereka dilalukan dengan disiplin waktu, walau hanya seberapa yang kian masih pasif dalam waktu.
Dimensi pola dalam benak masyarakatnya sangat cerdas dalam mengelola konsep, yang secara teoritis maupun secara praktisi dalam mengerjakan kebun. Hasil dari perkerjaan itu, merupakan hasil kesolidaritas bersama. Itulah hura-hura yang ditunggu-tunggu dalam bayangan mereka itu. Dengan dentuman bunyi kebersamaan, suatu hasil tak menghianati pada suatu pekerjaan. Walapun kekurangan yang cukup besar yang dialami oleh mereka, tapi itu bukanlah suatu hal atau wacana. Dan inti dari kekurangan itu, dijadikannya sebagai bahan pelajaran yang harus diperbaiki secara saksama, agar kekurangan tersebut menjadi lebih baik untuk membangkitkan ekspresi yang lesum itu. Pagi-pagi benar, matahari memancarkan cahayanya, teriakan burung Cenderawasih yang harmonis, telah membangunkan mereka dari tidur.
Terdengar suaranya yang nyaring itu, mereka pun semangat untuk kembali beraktivitas (bekerja kebun). Sungguh indahnya burung Cenderawasih, dari coraknya terlihat jelas bahwa itu merupakan ciri khas yang menyelimuti tubuhnya. Arus suara burung yang kencang itu, selalu hadir dalam sepanjang perjalanan menuju kebun. Peralatan untuk mengimbangi pekerjaan mereka, berupa Parang Sabit, Cangkul, dan Penggaruk rumput. Dengan beberapa peralatan yang sederhana itu, mereka telah lekas membuat lahan berkebun yang cukup luas, hanya dengan atribut yang sangat sederhana. Itulah keajaiban yang seharusnya dan patut untuk kaum mudah mengetahui serta mempraktekannya, tapi dibalik itu hanya sebuah wacana doang! Seiring lajunya waktu dan perkembangan, kaum muda t’lah terhipnotis dengan rayuan perkembangan itu. Kini sirna dalam dekapan titik kecil, artinya hanya seberapa kaum muda yang masih mempunyai niat untuk membantu orang tuanya berkebun. Walaupun wajahnya yang keriput dan pipinya yang lesum, ia tak pernah mengenal lelah dan dahaga. Engkau masih terlihat segar dengan setitik ekspresimu yang selalu merelakan tenagamu yang kini termakan waktu demi kehidupan keluarga tercinta. Sedikit demi sedikit kan menjadi bukit.

Komentar
Posting Komentar