Dusun Kecil (Cerpen)




Oleh, Imanuel Nawipa ( KritingManis)


Dusun kecil ini mempunyai banyak cerita, dusun kecil  atau biasanya disebut kampung Hobiah, kampung ini terdapat di provinsi Papua barat khususnya di kabupaten Tambrauw. Susah senang terdapat di kampung itu, tiada hari untuk berkebun dan berburuh. Waktu yang menyenangkan adalah liburan di Kampung.

Pada suatu hari sore benar, terdapat empat orang berade Kaka yang sedang mencari kayu bakar di seberang kali Kamundan, keempat orang berade Kaka tersebut terdiri dari; Yimu, Mikael, Moses, dan Berkat dari keempat berade Kaka ini yang lebih tua ialah si Berkat, si Berkat ini selalu mengarahkan adik bertiga nya dengan baik. Setelah mencari kayu bakar, sore senja pun telah menghampiri mereka dikali Kamundan tersebut. Kata si Moses ” Kak … sebelum kita pulang ke rumah bisakah kita main sedikit di pinggir kali? Kemudian jawab si Berkat… kalau dari Kaka setuju! tetapi kita main apa? Tanya si Berkat, jawab si Moses ” kak…Kita main petak umpet…kata si Berkat okelah…panggil yang lain. Gelap pun telah tiba menghampiri mereka, mereka pulang dengan membawa kayu bakar dan dua ekor tikus tanah yang tadi mereka dapat di jeratnya si Mikael. Sesampainya di rumah, si Berkat pun membagi tugas kepada tiga adiknya itu, si Moses mengatur kayu bakar ditungkuh api, si Yimu sedang membakar tikus tanah sekaligus membersihkannya, si Mikael sedang mencuci piring kotor yang tertumpuk dan sedangkan si Berkat sedang membersihkan bumbu untuk persiapan masak tikus tanah tersebut dan sekaligus merebus Keladi. Tidak lama kemudian, pekerjaan mereka semua telah selesai dengan tepat waktu, setelah itu makanan yang sudah masak, mereka kumpulkan menjadi satu dan makanan yang lain mereka simpan untuk orang tua mereka. Mereka santap makanan tersebut secara bersamaan, namun tidak lama kemudian orang tua mereka pulang malam dari kebun dengan capeknya, orang tua mereka pulang dengan membawa umbi dan sayuran sebagai bekal untuk besok, sesampai di rumah si Berkat mengambil makanan untuk Ayah dan Ibu makan. Kata Ayah dan Ibu mereka, anak-anak kalian punya masakan sangat enak, Ayah dan Ibu sangat bangga kepada kalian. Dengan makan yang lelap, orang tua mereka pun beristirahat, bulan terang telah tiba, keempat bersaudara ini sedang duduk menikmati kopi sambil dihiasi dengan terangnya bulan yang nan elok nan indah itu.
Pagi-pagi benar Ayah dan Ibu mereka sudah bangun menyiapkan makan untuk mereka berempat itu, tujuh lewat lima empat menit itu pun telah lekas tiba Ayah dan Ibu mereka lanjutkan pekerjaan di kebun yang jauh tiga kilo dari rumah itu. Tidak lama kemudian, si Berkat bangun dan berjalan ke dapur belakang, dilihatnya ada tiga gelas teh hangat dan lima buah singkong yang sudah masak tidak lama kemudian kang Berkat memanggil ketiga adiknya, lalu bangunlah ketiga adiknya itu langsung menuju ke dapur. Sementara mereka berempat sedang sarapan pagi, kata si Yimu kepada kakaknya si Berkat…Kak z pu ide, bagaimana kalau kita berburuh saja…kan kita sudah lama belum makan daging, kemudian jawab si Berkat itu, boleh saja Kaka setuju dengan ide kamu Adik. Kemudian si Berkat, menyuruh mereka bertiga untuk menyiapkan alat berburuh sekaligus memanggil anjing-anjing mereka, datanglah anjing-anjing itu lalu diberi makan oleh si Mikael, agar anjing-anjing tersebut tetap spirit untuk berburuh. Semuanya sudah siap, jam dua belas lewat dua puluh menit, mereka pun berangkat, saat perjalanan mereka berempat di tengah hutan yang ditemani oleh burung-burung yang bersuara meriah. Sore pun telah tiba, mereka pulang dengan membawa dua ekor hewan yaitu satu ekor babi dan satunya lagi rusa, mereka pulang dengan senang dan amat sangat gembira ria, kemudian babi dan rusa tersebut mereka luncurkan ikut kali Kamundan turun ke kampung Hobiah. Sesampainya di sana si Berkat cepat bergegas untuk membagi tugas pada ketiga adiknya itu, si Mikael dan Yimu memotong rusa dan si Berkat dan si Moses membakar babi, dengan kerja sama keempat Kaka beradik itu, pekerjaan pun telah selesai. Kemudian daging pun mereka bagi kepada keluarga mereka yang ada di kampung itu, setelah itu sisanya mereka membawa pulang ke rumah, sesampai di rumah Ayah dan Ibu juga baru pulang dari kebun, mereka terasa senang ketika melihat mereka membawa daging. Tidak lama kemudian, Ibu pun bergegas untuk memberikan bumbu dan lain sebagainya untuk memasak daging babi, namun rusa dibuat dendeng. Dengan capeknya itu, Ibu mereka pun tetap semangat walaupun letih, kemudian makanan pun sudah matang, Ibu memanggil mereka berempat dan Ayah, mereka dengan perut yang kosong langsung ke dapur jumpai makanan. Mereka berempat itu makan bersama dengan kedua orang tua mereka, setelah makan mereka pun bergegas mencuci tangan dan langsung tidur. Pagi pun telah tiba, dengan embun pagi yang nan elok dan dingin itu telah menghiasi kampung itu ditambah irama merdu suara burung Cendrawasih yang kerap kali, jika di pagi hari memantulkan suaranya di kampung itu. Mereka semua pada bangun, kebiasaan mereka kalau setiap saat bangun tidur pasti langsung menuju ke tungku api untuk menjemur badan mereka ditungku api itu. Hari ini memang hari yang sangat beruntung untuk mereka berempat, kata si Mikael pada si Berkat…kak mau tidak kalau kitong bantu Mama dan Bapa pergi ke kebun untuk memberikan rumput dan sekaligus panen padi…jawab si Berkat, oke tongk ke kebun sudah. Sebelum mereka pergi ke ladang, mereka membersihkan rumah baik itu didalam maupun diluar, setelah itu mereka mereka langsung bergegas ke ladang, sesampai di sana mereka berempat membantu Ayah dan Ibu dan sekaligus membagi tugas yang lain memanen padi dan yang lain lagi membersihkan rumput. Kebun mereka terletak di bukit, biasanya bukit itu sebagai tempat yang satu-satunya ada sinyal untuk telfon, karena kampung tersebut tidak ada jaringan. Sore nan elok pun telah tiba menghantui mereka serta diikuti irama suara burung yang indah pula, dengan selesai pekerjaan mereka, keempat Kaka beradik ini lagi senangnya bermain dengan saling melempar menggunakan rumput padi, dengan asiknya Ayah dan Ibu mereka pun ikut menertawakan mereka itu. Lekasla mereka bermain, Ayah dan Ibu menyuruh mereka berempat memikul kayu bakar dan membawa sayur yang sudah disiapkan oleh kedua orang tua mereka, mereka pun pulang dengan sore amat. Sesampai di rumah, walaupun dengan letih mereka, si Berkat menyiapkan teh hangat untuk adik-adiknya serta Ayah dan ibu, kemudian si Mikael membersihkan singkong sekaligus merebus singkong tersebut hingga matang setelah itu ia memotong daging dendeng babi yang Minggu kemarin punya, dengan letih nya juga si Moses ikut membantu saudaranya itu. Makan malam pun sudah siap di hidang, si Yimu memanggil Ayah dan Ibu mereka untuk makan malam bersama, selesai makan malam, mereka pun istirahat walaupun dengan keadaan lampu yang tidak begitu terang.
Esok paginya, tidak terasa waktu libur mereka sudah mau lekas selesai dan tanggal masuk sekolah pun sudah mau dekat. Ayah sedang menyiapkan kopi dan empat buah petatas untuk mereka. Kata Ayah dan Ibu mereka ” anak-anak tidak lama lagi kan kalian akan kembali masuk sekolah, jadi kalian kemas-kemas kan barang dan tas kalian masing-masing untuk persiapan nanti ke kota ” , jawab mereka ” baik Bapa dan Mama”, mereka pun segera bergegas siapkan barang-barang mereka. Kata si Mikael… sebelum besok kita pulang, ada baiknya kita membantu membersihkan rumah, agar Ayah dan Ibu tidak repot-repot lagi untuk bekerja lagi. Dengan gairah semangat mereka, pekerjaan pun telah selesai. Ayah dan Ibu mereka sangat bangga pada mereka anak-anaknya.
Mereka kakak beradik pun kembali untuk beraktivitas seperti biasa di sekolah. Itulah perjuangan dan perjalanan liburan mereka disusun atau kampung itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Singkat Gregor Johann Mendel

Unscrupulous Law

MENGENAL BAHASA